Breaking

blog single post
Inspirasi

Apakah Gedung Kantor dan Co-Working Space Jakarta Tahan Gempa?

SPOTQOE.COM – Tinggal di Negara Republik Indonesia sudah sewajarnya khawatir dengan ganggun alam yang sulit diprediksi kapan datangnya. Terlebih dengan teknologi kita saat ini yang masih belum mumpuni jika dibandingkan dengan teknologi pendeteksi gempa seperti di Negara Jepang.

 

Kawasan Cincin Api Pacific atau Circum Pacific Belt merupakan daerah sesar atau zona rekahan yang membentang sekitar 40.000 km, mulai dari Chile, Jepang, dan berhenti di Asia Tenggara. Tepatnya di Indonesia yang dilewati garis katulistiwa. Kawasan ini menjadi pusat gunung berapi di Bumi sebanyak 75 persen menurut National Georaphic.

 

Indikator Gedung Tahan Gempa atau Tidak

Karena Indonesia berada di daerah rawan gempa, Pemerintah berupaya keras untuk mengurangi korban jiwa. Termasuk dengan memberikan regulasi dan standar untuk bangunan. Khususnya untuk gedung bertingkat yang banyak digunakan untuk kantor dan sewa ruang Co-Working Space. Namun, nampaknya tidak semua masyarakat Indonesia benar-benar paham tentang urgensi gedung tahan gempa. Lantas, apa yang perlu diperhatikan sebelum memilih domisili perusahaan untuk ruang kantor atau sewa ruang Co-Working Space murah terbaik di Jakarta.

 

Baca Juga: Izin Mendirikan PT dengan Domisili Apartemen Menurut Hukum Boleh atau Tidak?

 

1. Lokasi dan Jenis Tanah

Hamper seluruh pulau di Indonesia memang rawan gema karena merupakanjalur Cincin Api Pasifik. Namun, setiap lokasi memiliki besaran resiko yang berbeda-beda tergantung pada lokasi dan geografis. Misalnya kedekatan dengan gunung berapi, laut, dan juga jenis tanahnya. Lalu bagaimana dengan Jakarta? Kota metropolitan yang memiliki banyak gedung tinggi menjulang yang berisi pusat perbelanjaan, perkantoran, dan juga sewa ruang Co-Working Space murah terbaik.

Jika dilihat dari jarak dengan gunung berapi dan laut, yang memungkinkan terjadinya gempa tektonik dan vulkanik, Jakarta merupakan lokasi yang cukup rawan. Ditambah dengan  jenis tanah Jakarta memiliki jenis tanah yang cenderung lunak. Oleh Karen itu, setiap edung yang berdiri di kota mJakarta harus dipastikan dibangun dari material yang baik dan memenuhi standar serta regulasi.

 

2. Gedung Memiliki Denah Simetris

Gedung dengan denah simetris dan simpe dianggap lebih mampu memperkokoj struktur dan menyebarkan gaya secara marata. Dengan tanpa bentukan dan aksesn yang berlebihan. Struktur ini dapat menahan gaya gempa karena mengurangi efek torsi dan meratakan kekuatan gempa ke gedung.

Tidak hanya itu, denah seperti ini membantu penghuni utnuk cepat melakukan evakuasi ketika gempa terjadi. Bahkan biasanya bangunan seperti ini juga memiliki jalur evakuasi yang jelas dan mudah dimengerti oleh masyarakat awam sekalipun.

 

3. Fondasi dan Pemilihan Beton

Dalam membangun gedung atau ruma, struktur paling bawah berfungsi untuk menyalurkan beban ke tanah. Struktur tersebut harus berdiri di tanah yang permukaannya keras. Dengan kedalaman minimum 60-75 cm dari fondasi. Selain struktur paling bawah, fondasi dibangun bersama tiang pancang yan dalam serta terhubung satu sama lain agar pergerakannya menjadi satu kesatuan.

Sedangkan komponen beton yang diperlukan terdiri atas pasir, kerikil, air dan semen dengan presisi demi mengurangi resiko retakan dan beton runtuh saat gempa. Struktur beton bertulang juga harus dihitun detail dan mampu menahan beban kelembaman gempa.

 

 

4. Tinggi dan Jumlah Lantai

Ketinggian sebuah bangunan juga menjadi indicator untuk menilai ketahanan terhadap gempa. Tinggi dan jumlah lantai pada gedung atau ruma menentukan beban yang didukung tanah dan fondasi. Jika tinggi dan jumlah lantai sedikit, efek getaran gempa kecil, dan kerugian makin sedikit. Namun, ini biasanya bisa diatasi dengan perhitungan tepat dan fondasi kuat.

 

Baca Juga: Pentingnya Memilih Kursi yang Nyaman Sebagai Perlengkapan Kantor, Berikut 10 Tipsnya!

 

5. Material Konstruksi Tahan Gempa

Gedung kantor dan Co-Working Space murah terbaik yang tahan terhadap gempa bisa dilihat dai material konstruksi yang digunakan. Menggunakan pilihan bahan berkualitas, bersertifikat, dan berelemen tepat untuk menyerap energi yang dihasilkan gempa bumi. Denan begitu, bangunan tersebut dapat meminimalisir kerusakan saat bangunan berguncang. Contoh material konstruksi yang tahan gempa antara lain beton bertulang, konstruksi baja ringan dan batu bata ringan.

 

6. Patuh Aturan SNI Gempa

Setiap Negara memiliki standarnya sendiri dalam mengatur bangunan agar tahan terhadap beberapa kondisi, termasuk gempa. Standar Nasional Indonesia (SNI) dikeluarkan tahun 2002 dan 2012. SNI gempa ini menentukan nilai percepatan maksimum di batuan dasar (nilai PGA) dalam ketahanan rancangan bangunan. Niai PGA ini tergantung seberapa rawan daerah terkena gempa dan berubah setiap tahun. Misalnya, nilai PGA untuk Kota Palu tahun 2012 adalah minimum 1 hingga 1,2 G.

Dari aturan ini, bisa Kamu ketahui apakah sebuah banunan tahan gempa atau tidak. Bila bangunan gedung perkantoran tidak taat pada aturan SNI gempa, maka boleh diragukan kualitasnya. Selain itu, tinggi bangunan dan system struktus juga diatur dalam SNI gempa. Bukan berarti tidak boleh ada bangunanlantai 10, 20, 30, asalkan proses pembangunan sudah konsisten dan sesuai dengan kaidah.

 

Baca Juga: Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2020 untuk ASN dan Pegawai Swasta Beserta Aturannya 

 

Jadi, Kamu tidak perlu khawatir lagi untuk menyewa kantor, menyewa ruang meeting hotel maupun menyewa Co-Working Space murah terbaik di Jakarta. Karena bangunan-bangunan yang berdiri di Ibukota ini telah melewati berbagai macam izin dan regulasi, salah satunya mematuhi aturan SNI gempa.

Sumber : Berbagai Sumber

Reaksi Anda:




Komentar


Belum Ada Komentar

Berikan Komentarmu